Halaman

"The king's house has three hundreds and thirty pillars as thick as a wine cask, and five fathoms high, and beautiful timberwork on the top of the pillars, and a very welll built house. The city is two day's journey from the chief port , which is called Calapa".(Tom Pires, 1513)

Rabu, 28 Desember 2011

Kerajaan Sunda Galuh, Masa Keemasan.


Disiplin dalam melakukan suksesi benar benar memberikan berkah bagi Kerajaan Sunda Galuh. Nampaknya mereka telah belajar banyak dari era 100 tahun penuh makar dan peperangan yang tidak perlu. Mulai dari era Sunda Sembawa (964-973) maka kerajaan Sunda Galuh benar benar berada dalam perdamaian dan masa keemasan.

Walaupun tidak tercatat melakukan ekspansi memperluas wilayah, kala itu Kerajaan mempunyai angkatan perang yang kuat baik angkatan darat maupun angkatan laut. Sebagaimana diketahui, beberapa pelabuhan penting saat itu dibawah otoritas Sunda Galuh, terutama Banten, Cirebon, dan tentu saja Kalapa (Sunda Kalapa, Jayakarta, dan akhirnya Batavia, Jakarta).

Sempat terjadi insiden kala Raja Langlangbuana berkuasa. Kisah epik seputar pendeta perempuan. Sang Hyang Batari Janapati.

Pada masa Prabu Langlangbumi (juga disebut Langlangbuana atau Sang MoktĂ©ng Kerta, memerintah sekitar 1065–1155 M), wilayah Kerajaan Sunda (atau Sunda-Galuh) mengalami pembagian kekuasaan lagi menjadi dua kerajaan utama:

  • Kerajaan Sunda di sebelah barat (berpusat di Pakuan/Pajajaran area Bogor sekarang).
  • Kerajaan Galuh di sebelah timur (dengan Galunggung/Rumatak sebagai salah satu pusat penting).

Ketika Prabu Langlangbumi naik tahta sebagai raja Sunda, muncul ketegangan dengan Batari Hyang Janapati yang memerintah Galunggung. Pembangunan parit pertahanan Rumatak oleh Batari Hyang dianggap sebagai langkah yang menguatkan posisi Galunggung secara mandiri. Hal ini memicu ancaman konflik.

Melalui perundingan damai (didukung mediasi ayah mereka, Sang Resiguru Batara Hyang Purnawijaya), akhirnya disepakati pembagian wilayah:

  • Sebelah Barat Sungai Citarum (kurang lebih) → Kerajaan Sunda di bawah Prabu Langlangbumi dan permaisurinya Dewi Puspawati.
  • Sebelah Timur → Kerajaan Galuh di bawah kekuasaan Sang Hyang Batari Janapati, dengan ibu kota baru di Rumatak/Galunggung (Tasikmalaya area).

Pembagian ini bukanlah perpecahan total yang permusuhan, melainkan pembagian administrasi dan kekuasaan sambil tetap menjaga hubungan kekerabatan (karena Langlangbumi menikahi kakak Batari Hyang).

Masa damai itu tidak terpengaruh oleh terjadinya peperangan antara negara negara sekitarnya (Sriwijaya, Kediri, Samudra Pasai). Bahkan pada masa Raja Darmasiksa (1175 - 1297), Kerajaan Sunda Galuh -tepatnya di bekas ibukota Sundapura - menjadi tempat perundingan damai segitiga antara kekaisaran China, Sriwijaya, dan Kediri. Perlu dicatat, Darmasiksa mempunyai seorang cucu yang bernama Raden Wijaya. Raden Wijaya, setengah Sunda, setengah Jawa, kemudian  mendirikan Majapahit yang terkenal itu. Darmasiksa memang raja visioner. Dia mendirikan banyak kabuyutan, diantaranya Ciburuy (Garut), Sanghyang Tapak (Sukabumi), dan Kanekes (Banten). 800 tahun kemudian, kini, kita masih dapat menyaksikan miniatur Kerajaan Sunda di Kanekes. 

Pada era Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kerajaan Sunda Galuh mempunyai ibukota baru, yaitu Kawali (= kuali, belangga). Selama ini ibukota kerajaan berada bolak balik antara Pakuan, Galuh, atau Saung Galah (sekitar Gunung Galunggung). Maka mulai saat itu orang mengenal era Kawali dalam perjalanan sejarah Sunda Galuh. Pada saat yang sama Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa dihadapan Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana di Majapahit.

Hampir 400 tahun berlalu sudah sejak Raja Sunda Sembawa memerintah. Masa keemasan terus berlanjut hingga Prabu Maharaja Lingga Buana (1350-1357) naik tahta. Dan Tragedi Bubat, terjadilah.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer